Makna Filosofis Nasi Tumpeng


Tumpeng adalah sebuah cara penyajian nasi beserta dengan lauk pauknya. Pada umumnya, nasi yang digunakan berupa nasi kuning. Namun juga kerap kali disajikan dengan nasi uduk atau nasi putih biasa. Biasanya nasi ini disajikan saat ada perayaan-perayaan suatu kejadian penting yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar Pulau Jawa dan Bali, bahkan menyebar sampai ke manca negara. Tumpeng ini biasanya disajikan dengan alas yang berbentuk lingkaran dan terbuat dari bambu yang bernama tampah yang dialasi dengan daun pisang.

Setiap unsur di tumpeng ini memiliki makna filosofis yang sangat kuat. Berawal dari bentuk tumpeng yang kerucut seperti gunung ini memiliki makna spiritual yang tinggi. Gunung bagi masyarakat Jawa sering kali diidentikkan sebagai tempat maha tinggi, yaitu tempat penguasa alam semesta bertahta. Bentuk nasi ini dimaksudkan untuk melambangkan gunung yang disucikan oleh masyarakat Hindu, yaitu Gunung Mahameru di mana dipercaya sebagai tempat bersemayamnya dewa-dewi. Gunung juga melambangkan keselamatan di mana dalam Mahabarata diceritakan bahwa di bawah Gunung Mandara mengalirlah amerta atau air kehidupan. Sehingga gunung seringkali dikaitkan dengan keselamatan.

Kuning dan putih juga menjadi warna yang dominan dalam makanan ini yang berasal dari warna nasi. Warna putih, bagi para umat Hindu diasosiasikan dengan Dewa Matahari, yaitu Indra. Matahari adalah sumber kehidupan, dan memiliki cahaya yang berwarna putih. Selain itu, dalam beberapa agama warna putih sering dikaitkan dengan kesucian. Sedangkan, warna kuning melambangkan rezeki, kelimpahan dan juga kemakmuran. Nasi tumpeng yang hampir selalu hadir dalam perayaan-perayaan syukuran atau selamatan ini bermakna bahwa adanya pengakuan akan adanya kuasa Tuhan yang memberikan keselamatan dan juga harapan akan rezeki dan kemakmuran akan perayaan tersebut.

Memang tidak ada aturan yang mengikat mengenai lauk pauk di nasi tumpeng ini.  Namun ada beberapa lauk yang biasanya disajikan bersamaan yang sekaligus juga memiliki makna tersendiri. Biasanya disarankan lauk pauk yang digunakan terdiri dari hewan darat, hewan laut dan sayur mayur. Hal ini juga melambangkan penghasilan masyarakat di sekitar gunung berasal dari bercocok tanam dan beternak. Sehingga hampir seluruh kebutuhan hidup mereka didapatkan dari sekitar gunung. Karena itulah lauk-pauknya ditempatkan di sekeliling nasi (dalam hal ini berarti gunung) karena memang dari sanalah mereka berasal.

Berikut ini adalah unsur-unsur pada nasi tumpeng beserta dengan makna filosofisnya:

Nasi putih melambangkan bahwa segala sesuatu yang kita makan menjadi darah dan daging haruslah dipilih dari sumber yang bersih atau halal. Bentuknya yang berupa gunungan juga dapat diartikan sebagai harapan agar kesejahteraan hidup kita semakin naik dan tinggi.

Ayam merupakan simbol menyembah Tuhan dengan khusyuk (manekung) dengan hati yang tenang (wening). Ketenangan hati dicapai dengan mengendalikan diri dan sabar (nge’reh’ rasa).

Menghadirkan ikan lele sebagai lauk dalam tumpeng merupakan simbol ketabahan, keuletan dalam hidup. Sedangkan ikan bandeng terkenal dengan duri-duri halusnya yang jumlahnya seperti tidak terbatas. Melalui hidangan ini orang berharap setiap saat bisa mendapat rezeki dan jumlahnya selalu banyak atau bertambah seperti duri ikan bandeng. Lain lagi halnya dengan ikan teri yang hidupnya selalu bergerombol. Ini mengingatkan manusia bahwa mereka tidak bisa hidup sendiri. Mereka adalah makhluk yang lemah dan membutuhkan bantuan orang lain untuk hidup.

Telur rebus dan harus disajikan utuh dengan kulitnya. Untuk memakannya harus dikupas terlebih dahulu. Hal tersebut melambangkan bahwa semua tindakan yang kita lakukan harus direncanakan, dikerjakan dan dievaluasi.

Bayam melambangkan kehidupan yang ayem tenterem (aman dan damai), tidak banyak konflik seperti sederhananya bentuk daunnya. Berbeda dengan kangkung yang bisa tumbuh di air dan di darat, begitu juga yang diharapkan pada manusia yang harus sanggup hidup di mana saja dan dalam kondisi apa pun. Kangkung juga berarti ‘jinangkung’ yang artinya melindungi. Tauge muncul keluar dari biji kacang hijau, adalah jenis sayuran yang sangat mudah dihasilkan. Ini mengandung pengharapan bahwa manusia dapat terus tumbuh dan berkembang, mempunyai anak cucu. Kacang Panjang harus hadir utuh, tanpa dipotong. Maksudnya agar manusia hendaknya selalu berpikir panjang sebelum bertindak. Selain itu kacang panjang juga melambangkan umur panjang. Kacang panjang utuh umumnya tidak dibuat hidangan, tetapi hadir sebagai hiasan yang mengelilingi tumpeng atau ditempelkan pada badan kerucut. Cabe merah biasanya diletakkan di ujung tumpeng. Ini merupakan simbol api yang memberikan penerangan/tauladan yang akan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Sedangkan sayur urap berarti urip/hidup atau mampu menghidupi dan menafkahi keluarga.